Anjing, itu ternyata perek

Jam menunjukan pukul 3 WIM (waktu indonesia mengantuk), mata terasa berat, mulut terasa pegal karena menguap. Pikiran entah kemana, konsentrasi sudah tiada, air dalam gelas sudah habis, karena hampir setiap 5 menit harus diangkat untuk merendam rasa mengantuk. Akhirnya ambil jalan pintas, bakar paru-paru (seperti yang dikatakan pak Ade).  

Suasana berubah, udara AC yang dingin menusuk tulang menjadi hangat karena saya putuskan merokok di depan kantor. Sambil meluruskan punggung yang hampir-hampir bengkok permanen karena duduk seharian penuh. Syukurlah jalan raya Kuta di depan kantor selalu ramai, dan yang pasti banyak wanita-wanita cantik yang berlalu lalang, yang setidaknya sekian persen dapat menghilangkan rasa kantuk saya. 

Kemudian mata saya tertuju pada parkiran tenda depan kantor, ternyata ada seorang wanita. Sambil menyalakan rokok saya perhatikan wanita itu. Mungkin lebih enak disebut cewek, karena kata wanita terkesan formal.hehe. Nah mulai dari menyalakan rokok hingga perlahan saya menghirup nikotin, cewek itu masih dibawah tenda. Sambil mengenakan helm warna hitam, lengkap dengan seragam sekolah (mungkin sekolah kejuruan, karena seragamnya tidak seperti anak sekolahan biasanya). Kemudian sesekali dia melihat hp yang berada di dalam tas yang sedang dipangkunya. Hmm.pikir saya saat itu adalah “aduh ada cewek loh (sambil melototin), lagi ngapaiin yah?” trus saya lihat sekelilngnya, sekakan-akan dia sedang menunggu jemputan. Lama juga saya amati  cewek itu, sambil saya berguman dalam hati “aduh manis juga yah tuh cewek, pakainnya sopan ngak norak seperti cewek seumurannya”. 

Setelah beberapa kali dia mengambil hp, yang sepertinya untuk melihat jam. Dan seperti nya sudah mulai gelisah. Kemudian dari arah barat melaju sebuah sepada motor mio warna hitam di tunggangi bule tanpa baju, berkaca mata hitam trus lengannya tatoan (mungkin tato temporary, karena tatonya kampungan).hehe. Melintas di depan saya kemudian berbelok dan berhenti depan cewek tadi. Saya pikir bule itu mau bertanya, karena tampang nya serperti orang tersesat. Eh taunya, cewek tadi dengan santainya melenggang mendekati tuh bule dan berboncengan trus ngeluyur pergi. Tanpa ada ekspresi antara bule dan cewek tadi ketika bertemu. Saya heran dan masih tidak habis pikir, sambil saya menghabisi rokok saya. Kemudian rokok saya matikan dan ikut ngeluyur masuk kantor sambil bergumam “anjing, itu ternyata perek”.

7 thoughts on “Anjing, itu ternyata perek

  1. Geq Pra says:

    uuuu……..manis asem asin……..
    Sige kg kbagian deh….
    Makanya jangan sembarangan melotot!!!Sekali melotot dapetnya *****

    posted: ( mungkin tato temporary, karena tatonya kampungan)……Emang situ punya tato?????
    hihihihih……Tenang ge nanti tak tatoin gambar TOKEK!!!!!!

  2. wia says:

    huahahahaa….dsr si9e..yakuZa kLs kakap.dLm hati “adh manizzzz’na..Leh ni knL.tak dinyana tyt “ehemmmh…”gagaL deh…yag setidakx sdkt mghLgkn gw py seterez….hihihi,,,,

  3. @Geq Pra
    :yee apa coba, sige mah kagak doyan yang begitu..tapi kalo ditawarin yah,mikir2 lagi deh..sige sie ga ada tato temporary, yang adanya permanent,warna nya putih dengan pola bervariasi..opsss.

  4. @Cha-cha
    : Iya cha..hehe..lagi ga hoky, padahal udah sige bathin tuh cew biar ngeliat sige, yah apa mau dikata…bule yang punya.. 🙁

  5. Jun says:

    Aq kgt jg Bli, cw2 di Bali ini skrng berubah drastis, mulai dari cr berpakaian, gaya hidup akbt pariwisata….seperti perek itu (meskipun cw it blm tentu gadis Bali asli, bs jadi-jadian wakaka…..).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *