Buah bekul dulu dan kini

Dulu sewaktu masih anak-anak selepas jam sekolah arena bermain saya tidak jauh dari kebun, ladang dan sawah. Memang waktu itu hanya itulah tempat terasyik dan ternyaman untuk bermain petak umpet, sepak bola, macing belut dan layangan.

Tanah kosong sebelah barat rumah saya saban sore selalu saja rame, karena tempatnya sejuk dan banyak pepohonan. Dari pohon kelapa, pisang, kapuk, jati, juet, boni, mangga dan bekul. Primadonanya adalah buah mangga dan juet.

Bila sudah musimnya pasti rame tuh tempat bermain. Kalau dipikir-pikir kembali, hampir semua buah dari pohon tersebut sangat saya dan teman sukai. Selain manis kecut dan tinggal petik kalo matang, tentu saja ga perlu bayar. Ha ha ha.

Opsi ke warung hanya pilihan terakhir kala itu, selebihnya tinggal tunggu buah matang di pohon dan kita tingga petik, sungguh nikmat.

Kalau buah mangga, juet dan boni itu musiman biasanya, lain halnya dengan buah bekul. Pohonnya super rindang, daunnya kecil-kecil, rantingnya banyak begitu pula buahnya. Pohon bekul selalu berbuah dan tidak mengenal musim, saking banyak buahnya bahkan berserakan. Kalau rasa buahnya rada kecut, yang matang agak manis kecut dan warnanya kuning keemasan. Daging bauh bekul sedikit dan bijinya besar.

Walaupun buahnya hingga berserakan kurang kami gemari, karena rasanya kecut. Hanya sesekali saja kami makan kalo mau bikin rujak.

Nah itu buah bekul dulu di era 90an, kini buah bekul telah berubah.

Semalan saya bertemu dengan kawan seangkatan kuliah, yang berasal dari Singaraja. Sebut saja Lena, nama sebenarnya. Setelah melihat postingan di Facebooknya, tentang buah bekul jumbo, saya pun penasaran dan minta agar dibungkusin 2 plastik.

Saya pun kaget melihat ukuran buah bekulnya, sungguh besar-besar sebesar apel Malang. Karena sudah malam, tak sempat ngobrol banyak dan buah bekul jumbo pun ditangan, kemudian teman saya Lena langsung lanjut ke Singaraja.

Tak sabar untuk mencicipi bagaimana rasa buah bekul ukuran jumbo ini.

Pagi tadi, bauh bekul jumbonya saya ambil sebiji kemudian saya belah. Pas di mau dibelah tidak bisa karena kena biji buah yang keras. Jadi perlu memisahkan baiji dan daging buahnya. Seperti memotongbuah kedondong cara memisahkan daging dan bijinya.

Sepintas kalo diliat amati perbedaan antara daging bekul yang dulu pernah saya makan, makan bekul jumbo bener-benar melimpah daging buahnya. Luar biasa.

Kemudian saya cicipi daging buahnya, wow mirip dengan kombinasi buah pir dan apel. Sungguh berbeda 180 derajat bila dibandingjan dengan buah bekul yang kecil dan daging sedikit plus kecut.

Saya kurang tau ini hasil rekayasa genetik antara buah bekul dengan buah apel atau pir, ataukah memang ada jenis dari bekul yang jumbo seperti ini, yang jelas ini dibudidayakan di Singaraja oleh petani yang dulunya bertani anggur.

Inilah penampakkan buahnya.

Dan foto Pak Made Budiasa dan pohon bekul jumbo yang sedang berbuah dari referensi youtube

Semisal rekan-rekan blogger berminat mencicipi buah ini silahkan berkunjung ke Singaraja, tentunya buah bekul jumbo ini sudah banyak ada di pasar. Untuk harga kisaran 30-40rb per kilo.

Yup segitu aja dulu, saya mau lanjut makan buah bekul jumbo. Ha ha ha.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *