Bunga Jepun, primadona bisnis rumahan

Malam itu suara si dogi riuh, menggongong semakin menjadi-jadi dan berkeliaran seakan-akan sedang menginformasikan kepadaku bahwa dia sedang siaga 1.

Kuperhatikan jam di monitorku ternyata sudah menunjukkan pukul 3.30 dini hari. Wah hampir pagi, ga terasa kalo sudah menenggelamkan diri dengan apa yang kusuka waktu begitu cepat.

Kembali ke anjing, eh maksudku ke suara anjing tadi. Awalnya kuabaikan riuhnya si dogi, yah aku pikir mungkin saja ada hal yang dilihatnya dikegelapan, namun yah kok makin ga asik neh. Kemudian kuputuskan melihat apa yang sedang terjadi.

Ku selipkan juga badanku ditengah kegelapan, sambil melihat mencari dimana sumber kericuhan tersebut.hehe.

Yah ampun nampak sebuah lampu senter sedang redup terang dan ternyata pula nampak ibu setengah tua sedang asik memainkan senternya sambil memungut bunga jepun dipekarangan rumahku.

Gilak, pantes saja nenek suka ribut pagi-pagi lantaran produksi bunga jepun yang dipungutnya berkurang. Oh ternyata punya ternyata, ini toh biangnya keraknya.

Kontan saja ku panggil ibu itu.

“Oii sapa tuh,..”

Baru segitu saja sudah membuat ibu itu kaget dan segera menghentikan aktivitasnya, sambil mematikan senternya dan pergi tanpa permisi.

Hahaha..aku tertawa dalam hati mengingat kejadian itu. Tak disangka hingga sebegitunya dan berniatnya untuk mengambil bunga jepun yang bukan miliknya untuk kemudian dikeringkan lalu diuangkan.
image

Kalo kuingat-ingat kembali tentang bunga jepun ini, ternyata belakangan lagi menjamur pengepul mencari bunga jepun hingga kerumah rumah penduduk.

Kalo dihitung-hitung harga jepun kering sempat tembus 150rb perkilo, gimana gag menggiurkan.

Pantes saja saking pengen dapet duit trus orang berlomba-lomba memungut bunga jepun yang walaupun bukan miliknya.

Hmm, sambil beranjak kembali kekamar kubanyangkan betapa hebohnya pagi nanti ketika kuceritakan kejadian tadi.

Haha, okaylah kalo begitu mari kita tidur.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *