Ketika saatnya untuk berbalas

Ketika ada orang yang pertama kali melintas di pekarangan rumah, pastinya riuh suara anjing. Tidak satu, pun dua, tapi ada 5 anjing yang saling bersahut-sahutan mengyalak. Seolah, mepertanyakan “sedang apa kamu disini? ” sama halnya pertanyaan semut hitam yang berbaris di dinding..aeshhh

Begitulah suasana lingkungan rumah saya ketika ada tamu atau mungkin orang yang sekedar melintas di pekarangan rumah. Pastinya rame dan riuh. Kita sebagai tuan rumah pun segera tahu bahwa ada orang yang sedang melintas di sekitaran rumah, dan menurut insting anjing, orang tersebut adalah orang baru.

Terkadang merepotkan juga bila orang tersebut adalah orang yang kita kenal, namun baru kali pertama mampir ataupun melintas. Yah namanya tuannya si anjing, mau ndak mau kita mesti menenangkan si anjing dengan mendatanginya dan “ssstttt sekkk” mengisyaratakan agar anjing kita itu diam.

Dogi, anjing lokal peliharaan saya juga demikian, bulu menyerupai anjing Kintamani dan suaranya yang keras sering kali membuat orang yang melintas sedikit was-was dan mungkin takut yah, karena secara postur anjing besar dan suara keras. Satu sisi adanya anjing sangat membuat nyaman dan aman pemiliknya, namun kadang sebaliknya. Yah begitulah di Bali, rata-rata kehidupan masyarakat tidak terlepas dengan peliharaan

Dogi yang tadinya berbulu lebat, semenjak kurang lebih sebulan terkena penyakit gatal dan mengalami rontok bulunya. Sedih juga melihatnya begitu, sudah saya usahakan untuk memandikan, namun sulitnya luar biasa, sudah terlanjut trauma mandi. Pernah sewaktu- waktu dulu saya memandikannya dengan memaksanya, mungkin besar itu penyebab Dogi sangat takut bila dimandikan.

Nah setelah berjanji dengan kawan yang berprofesi sebagai dokter hewan yang juga saudara saya (lain ibu dan lain bapak), bro Edi dan rekannya Um Yoga, akhirnya datang kerumah dan melakukan diagnosa serta memberikan obat suntik untuk mengobati penyakit si Dogi.

Yup benar, ternyata ada semacam infeksi bakteri yang menyebabkan anjing gatal-gatal dan kulitnya rontok. Saya lupa nama bakterinya, tapi kurang lebih ini lah visual dari microskopnya.

Syukurlah penanganan kali ini tidak begitu sulit, karena saya menyiapkan kue sebagai penenang si Dogi. Dengan karakter anjing yang sudah trauma akhirnya kami putuskan untuk di bius dan sampling kemudian diagnosa serta pemberian obat jadi lebih mudah.

Yah semoga saja si Dogi bisa kembali pulih dengan bulunya kembali tumbuh dan menyalak seperti biasa, karena sudah waktunya membalas pengabdiannya selama ini.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *