Lawarku membawa cerita

Pagi itu aku mulai heboh dengan pertanyaan dan melangkah entah kemana…

“me dije tiuke? ”  *ibu dimana pisaunya

“base genep ape gen isine?” *bumbu genep apa saja isinya?

Sambil membawa talenan untuk membuat bumbu untuk adonan lawar yang hendak kubuat.

Begitulah, hebohnya bukan main, hehe. Aku jadi tertawa sendiri bila mengingatnya kembali.

Sebuah pagi di hari minggu yang cerah, para ibu-ibu sedang sibuk di dapur memasak. Demikian juga aku yang ikut menyibukkan diri untuk mencoba membuat lawar.

Hmmm, lawar kreasiku sendiri. Asyiikk…

Semua catatan resep lawar udah terpatri sebelumnya dibenakku, satu persatu bahan kusiapkan dan tak lupa sambil teriak entah apa saja yang kutanyakan pada ibu prihal apa-apa yang kubutuhkan.

Sehari sebelumnya aku bertekad bulat bahwa esok hari bangun pagi terus belajar membuat lawar. Sungguhnya aku merasa malu karena selama ini hanya menjadi penikmat lawar saja, tanpa pernah mencoba untuk mengetahui bagaimana cara membuatnya dan mempraktekannya secara langsung.

Kalau sekedar teori sih lewat, dan udah jago nampaknya, namun kalau pratek? Kurasa belum sepersen pun.

Sip, semua bahan sudah berjejer diatas meja.

Nenekku sibuk dengan banten dan canang yang seharu-hari dibuatnya, dan aku sibuk dengan lawar yang akan segera kuracik.

Kumulai dari mengupas bawang, cabe, dan lainnya. Kemudian dihaluskan. Beberapa komponen lain seperti bawang putih dan merah sudah digorengkan oleh istriku, oh iya dan parutan daging kelapa yang dibakar.

Setelah bumbu-bumbu rampung kulanjutkan dengan memotong daging yang akan kupakai. Yup, tiada salah, dagingnya adalah daging babi.

Kupotong halus memanjang, dan demikian juga dengan nangka yang sudah dikukus sebelumnya.

Ternyata tak semudah yang kubanyangkan, banyak hal sederhana yang tak bisa kulakukan dengan sempurna seperti yang Ibu contohkan.

Bumbu genep, daging nangka, nangka dan darah babi segar secukupnya telah siap untuk kuracik. Tinggal sekarang memberikan berapa takarannya yang pas.

Nah untuk ini aku masih minta bantuan Ibu untuk mengetahui berapa pas nya rasa lawar biar tidak terlalu pedas maupun hambar.

Dan akhirnya lawarku siap grak..haha,

Kok rasanya jadinya rada gimana gitu. Kurang manteb bumbunya, hhmm terlalu matang nangkanya dimasak.

Namun inilah karyaku, kutanya ibu dan istriku apakah sudah okay. Nampaknya mereka dengan berat hati mengatakan lawar buatanku cukup enak..haha.

Tapi tak apalah, semua butuh proses gumamku. Namanya juga baru belajar, kalo masih kurang pas yah harap maklum adanya. Tapi lain kali mencoba mustilah lebih baik lagi.

Yah begitulah caraku menenangkan gundahku,hehe.

Bisa kuambil sebuah pelajaran berhaga bahwa segala sesuatu yang sekalipun kita banyangkan mudah untuk dilakukan selama belum mencoba melakukannya tetap tidak ada jaminan bahwa kita bisa melakukan semudah seperti yang dibayangkan.

Okay cukup dulu postinganya, selamat pagi dan selamat beristirahat.

0 thoughts on “Lawarku membawa cerita

  1. Sesuatu yang Enak dan “OK” adalah hasil Karya dari sebuah aktivitas dan pembelajaran……
    Hingga Tercipta BUAH KARYA……He,,he,,, tapi Ngomong2 Tyang Nggak menolak kalo di tawari mencicipi Lawar Pak Gede…he..he….the balinese delicious food, Like it..!!!

    • Hi Bli Yoyon, mantab nian web mu…
      Terima kasih telah berkungjung, dan komentnya…

      Yup saya sependapt Bli, buah karya yang kita kerjakan dari proses belajar memang sangat berharga.

      Main ke kerobokan pas galungan, lawar menanti untukmu

  2. Wah, dari fotonya nampaknya enak. Lain kali, tambah darahnya sedikit gan … untuk masalah bumbu, takaran yang pas akan ketemu kalau sudah terbiasa … xixixi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *