Lebih dari sekedar cabe-cabean

Hangatnya mentari senja seakan menyengat malu-malu dan tak  seperti biasanya ku bermandikan keringat, sungguh menyenangkan.

Sore sisa akhir pekan ini kuhabiskan bersama anak istri di kebun. Menelusuri jalan setepak membelah petak-petak sawah yang kini telah mengering.

Ku masih ingat jelas ketika masa kanak-kanak dulu sebagian besar waktu kuhabiskan disini, mulai dari maen layangan, memancing belut hingga bermain yang sedikit elit yakni sepak bola. Sesekali terbayang wajah teman sepermainanku dulu, yang sebagian besar sudah berkeluarga dan buncit, hmm..buncit.

Tak terasa telah sampe di kebun yang kutuju, banyak yang berubah. Dulu semuanya dipenuhi oleh pohon kelapa, jambu, pisang dan lainya. Sekarang hanya beberapa batang saja, separuh sudah menjadi beton. Sapaan hangat dari bunga yang tumbuh liar, hingga beberapa rumpun pohon pisang.

Di beberapa petak sawah yang telah kering masih dimanfaatkan dengan tanaman yang tahan di lahan kering, seperti cabe, ubi, labu. Dahulu air tidaklah sulit, sekarang duh ‘dewa ratu’ air tidak ada, hanya memanfaatkan sumur bor. Kuperhatikan De Gus begitu menikmati lahan yang cukup luas untuk bermain dengan mamaknya, dan aku pun mulai menyibukkan diri dengan segulung selang menyiram tanaman tersebut.

Setangkai pisang susu akan menguning beberapa hari lagi, buah cabe beberapa diantaranya masih hijau dan sebagian memerah. Mentari semakin meredup, kumatikan air dan beranjak pulang membawa segenggam idahnya berkebun. Sampai jumpa di edisi berkebun lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *