Polarisasi negatif yang kalap

Beberapa minggu belakangan ini sangat ramai masyarakat kita terpapar pro-kontra mendukung salah satu calon bakal presiden yang akan memimpin Indonesia untuk 5 tahun ataukah 10 tahun mendatang jikalau dipilih 2 periode.

Media pun tidak luput dari keberpihakannya terhadap kubu partai politik dan capres jagoannya. Media televisi contohnya seakan sudah berubah merk, merk capres A dan merk capres B.

Di dunia maya pun tak kalah seru, persaingan dalam upaya pencitraan masing-masing calon pun menyeruak. Pencitraan negatif pun tidak segan-segan digambarkan oleh pendukung salah satu capres, hingga tidak asing lagi dengan isilah kampanye hitam.

“Adakah masalah yang kemudian timbul? yup, ada tentunya”

Saya pun menyimak tak sedikit dijejaring sosial semacam Facebok, dimana penggunanya meluapkan kegandrungannya atas salah satu pilahan capress dan itu baik.

“Lah tadi masalah, sekarang kok baik, bagimana ini?”

Yah baik karena inilah bukti betapa besarnya antusias masyarakat kita mendukung calon presidennya serta calon pemimpin bangsanya kemudian. Besarnya harapan masyarakat kita terhadap sebuah perubahan yang lebih baik.

Menjadi masalah kemudian ketika keberpihakan ini menimbulkan kebencian serta kedengkian antar simpatisan. Ini yang menjadikan polarisasi yang cenderung negatif.

Namun saya yakin ini adalah proses berdemokrasi di negara kita, walaupun untuk beberapa hal nampak lebih dominan adalah ego yang kalap.

Kalo saya pribadi tidak terlalu tertarik untuk menunjukkan kerberpihakan terhadap salah satu capres, menunjukkan bahwa yang satu lebih baik dari yang lainnya tidak penting bagi saya, toh keduanya adalah putra terbaikĀ  Indonesia yang akan memimpin negeri ini.

Sekian.

 

2 thoughts on “Polarisasi negatif yang kalap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *