Kemudian siapa yang harus bertanggung jawab?! Mikir.

Pasca pengumuman hasil pilpres 2019 oleh KPU pada tanggal 21 Mei, yang semula direncanakan dengan batas akhir tanggal 22 Mei, telah menunjukan bahwa KPU sebagai penyelenggara pelaksanaan pileg dan pilpress menyelesaikan tugasnya sehari sebelum tenggat waktu yang telah ditetapkan. Well done KPU !!!

Tiada gading tak retak, begitulah ungkapan yang saya kira cocok untuk proses pemilu legislatif dan presiden serentak 2019.

Banyak hal yang terjadi pada proses pemilu kali ini, diselenggarakan secara serentak dan ada 5 rangkap kertas suara yang kita sudah tuntaskan pada pencoblosan kapan hari lalu.

Tidak hanya pada saat pencoblosan dan pasca pemilu, tapi juga saat pra pemilu sudah banyak riak-riak dimedia, baik televisi dan sosial. Saling balas komentar,  juga fitnah keji dari oknum-oknum pendukung salah satu paslon.

Semula semua dari kita berharap happy ending akan tetapi kenyataan berkata lain. Ratusan petugas yang bertugas pada saat pasca pemilu meninggal, meninggalkan perih pada proses demokrasi tahun ini.

Saya mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya atas meninggalnya petugas KPPS pada saat mengemban tugas negara. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Gd Hadi – di Rumah Kedua

Belum lagi berita-berita hoaks dan polarisasi cebong – kampret, pun menyisakan dengki dan setimen yang luar biasa dimedia sosial. Dan masih berlanjut, hadehh…

Dan akhirnya, paslon 01 pasangan Jokowi – Ma’aruf Amin yang menuntaskan kontestasi Pilpress dengan mengungguli paslon 2 Prabowo – Sandi dengan selisih suara 5%, lebih dari 16 juta suara. Wow fantastis, melebihi selisih 5 tahun silam yang hanya 8 juta. Ayeee naik 2 kali lipat.

Selamat buat Pak Jokowi, kembali terpilih untuk kedua kalinya menjadi presiden RI.

Selamat juga buat Pak Prabowo, untuk kesekian kalinya mendapat juara kedua.

Gd Hadi – di Rumah Kedua.

Belum selesai sampai diucapan selamat, akhirnya pecahlah aksi demonstrasi sebagai ungkapan dari ketidakpuasan hasil pemilu.

Sudah biasa dibayangkan bahwa tidak hanya pendemo dari kubu 02 yang turun, konon ada pihak lainnya santer yang diberitakan mengambil bagian saat ricuhnya demo pada 21 dan 22 Mei kemarin.

Baik dari paslon 01 dan 02 pun menyampailan keprihatinannya dan menyerukan agar tidak ada aksi kekerasan.

Demo diharapkan damai hanya dimulut saja. Di lapagan paving, gas air mata, kembang api, pentungan dan gas air mata yang bicara.

Sudut sekarang mengarah ke kubu 02, yang awal mulanya mempopulerkan istilah people power lewat Pak Amin R.

Belum lewat sehari, pasca bentrok dini hari tanggal 21 Mei, sanggahan pun disampaikan Pak Prabowo dengan kutipan yang sangat jelas bahwa “yang rusuh di demo bukanlah sahabat Prabowo” gitu..

Kemudian benar terjadi, rusuh serusuh-rusuhnya. TNI Polri pasang badan dengan para demonstran perusuh. Water cannon, gas air mata, pentungan dan tembakan peringatan seolah hanya angin lalu bagi pendemo yang onar.

Darah sudah terlanjur ditumpahkan, 6 korban meninggal dari pendemo. Fasilitas umum pada ajang demo juga demikian, hancur berantakan.

Lawan balik, begitu mungkin teriak pendemo. Paving, kembang api, botol minuman, dan apa saja yang bisa dilempar ke aparat keamanan.

Kemudian…

Pihak 01 sebagai pemenang sudah pasti tidak ada keuntungannya menginisiasi demo tersebut.

Pihak dari 02 ada kemungkinan yang harus bertanggung jawab, karena takbir sudah dikumandangkan jauh sebelum usah pilpres.

Tapi, Pak Prabowo sudah menyampaikam dimedia, kalo demo rusuh bukanlah temannya.

See,..see,..kalo sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab?

Kita tunggu cerita selanjutnya.

One thought on “Kemudian siapa yang harus bertanggung jawab?! Mikir.

Leave a Reply to Made Wirautama Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *