Mengejar Mentari

Sudah beberapa minggu belakangan ini sungguh kepengen banget pergi melihat matahari terbit, dan pengennya bukan dari pantai tapi dari puncak bukit, yang pastinya dingin. Duh pengen banget pake banget nget nget…

***

Tibalah waktu itu, pagi menunjukkan pukul 3.30 ketika saya bangun menyiapkan mimik buat si bebi. Kondisi bener-bener lagi fit, badan sungguh segar dan ngantuk pun ndak sama sekali. Alhasil mandi pagi dan bersiap untuk menuntaskan kepengennya, menyambut mentari di desa Pinggan, Kintamani atau sering disebut sebagai negeri di atas awan.

Mungkin karena julukannya itu yah, sungguh menantang jiwa raga untuk segera ingin mewujudkan. Selain itu foto-foto berterbaran di media sosial dan video di youtube begitu banyak yang mengulasnya, jadi gag sabaran pengen ini kesana juga.

Oh iya lanjut, mendekati jam 4 pagi dengan berbekal SIM (Surat Ijin Melalai) dan gear seadannya untuk ridding akhirnya saya memutuskan gas ke desa Pinggan untuk segera menyambut mentari pagi. Sambil cek punya cek rute yang saya akan tempuh via google maps, dan keputusan diambil dengan mengambil rute Petang – Kintamani. Tapi agak sedikit mengkhawatirkan karena kondisi baterai handphone tersisa hanya 30%, jadi benar-benar mengingat rute yang akan ditempuh, terutama setelah memasuki Kintamani nantinya.

Menembus selimut kabut..

Melintasi Gatsu Barat – Mambal – Sangeh, suasana pagi sudah ramai ketika melintasi beberapa pasar di jam 4 pagi. Memasuki wilayah Sangeh dan melintasi Desa Petang sungguh sangat dingin, masih sangat lengang lalu lintas subuh itu. Melewati jembatan Bangkung, kemudian jalanan mulai menanjak dan kabut tebal menyambut. Sungguh  tebal, jarak pandang tidak lebih dari 10 meteran. Saya pelankan laju si kuda besi, spido menujukkan laju 20 -30kpj, sungguh selow..haha.

Kabut tebal telah berlalu namun menyisakan dingin yang sungguh sangat dingin. Mungkin juga karena posisi semakin meninggi mendekati Kintamani. Mau tidak mau kaca helm musti saya buka agar beberapa meter di depan mata bisa terlihat jelas. Yah kudu super hati-hati, namanya juga melintasi wilayah pedesaan, anjing kucing berserakan di jalan. Kadang tiba-tiba melintas dan memotong jalan, sehingga konsentrasi penuh di rem. Dan hampir saja di persimpangan ada sebuah tugu tepat di tengah jalan hampir tersenggol, fiuhhh mengagetkan sekali, itu tepatnya di jalan raya Catur – Kintamani, persis di maps di bawah.

Fiuh, see bener-benar ditengah jalan. haha, tidak ada yang salah dengan tugu tersebut, hanya saja saya yang sedikit ngeGas ditengah remang-remangnya jalan pedesaan.

Akhirnya saya tiba di batas akhir menuju Kintamani. Belok kanan di jaluh Kintamani -Singaraja, kemudian ambil jalur kiri hingga tiba di tepian Pura Puncak Penulisan, dan memasuki desa Sukawana. Saya perhatikan jam masih menunjukkan 5.30 dan ternyata bensin sudah mepet habis, wadohhhhh. Beberapa meter memasuki desa Sukawana belum juga nampak pertamini, dan akhirnya ada juga warung dengan pertamininya serta jam dah mempet jam 6 pagi. duhhhh bisa terlewat ini momennya.

Dan akhirnya…

Sedikit ragu akan menemukan momen sunrisenya, karena jalanan sudah lumayan terang. Beberapa menit berkelok kelok dan mengikuti jalanan menurun curam dengan tetap sesekali memastikan via google maps, dan dan dan akhirnya saya tiba di tempat yang saya tuju yakni spot foto sunrise desa Pinggan.

Ternyata tempat atau spot fotonya cukup oke, sudah disediakan tempat dengan fasilitas ada gazebo, tempat kemah dan ada warung juga disana. Sungguh tepat waktu saya tiba, pas banget matahari baru muncul dari ufuk timur dan balik-balik bukit dengan berselimutkan kabut. Duh momen yang sangat luarbiasa indah, dan berikut dokumentasi videonya dan fotonya


Melewati momen matahari terbit, di temani mie dan kopi seduh yang nikmat sungguh berkesan. Luar biasa perasaan setelah bisa mencukupi rasa ingin dan kepingin beberapa bulan belakangan ini.

Saatnya kembali pulang…

Tidak sampai sejam disana, akhirnya saya memutuskan untuk kembali pulang dengan melintasi jalur yang sama yang beberapa saat lalu saya lewati. Sudah tidak sabar rasanya kembali dirumah, karena hari itu adalah hari sabtu dan bocah-bocah sudah menanti pastinya.

Salam hangat dari Rumah Kedua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *