Menikmati aspal dan kabut menuju Kintamani

Beberapa pekan belakangan ini hujan senantiasa mengguyur Denpasar dan sekitarnya, hingga sampai saat ini saya belum sempat mengaspal. hik hik

*****

Pagi ini adalah momen yang pas buat melemaskan pergelangan tangan, dengan melintir gas dan mencengkram rem. Setelah semalam bulan penuh/purnama, pagi ini cuaca sangat cerah, paling tidak di Kerobokan.

Setelah mandi pagi dan mendapatkan Surat Ijin Ridding, saya pun bergegas. 3 lapis baju, 2 lapis celana panjang lengkap dengan sarung tangan, plus motor dalam keadaan super prima.

Oh iya beberapa waktu sebelumnya saya mengganti ban si beat dengan ukuran yang lebih besar dengan harapan ban lebih napak ke aspal dan lebih stabil pada kecepatan 80 -100kpj, maklum skutik kecil suka goyang kalo di gas.

Dan pergantian lampu utama, setelah beberapa kali mencoba lampu projie murah meriah akhirnya saya putuskan mencoba  RTD led 6 sisi. Lumayan terang pastinya menyilaukan, masih saya uji coba sebelum ke HID. Hehe, yang penting fasih dulu bongkar pasangnya.

Back to topik, tepat jam 5 pagi, saya pun meluncur ke Kintamani, Bangli.

Rute yang saya ambil mengikuti petunjuk gmaps, dari Kerobokan – Sading – Mambal – Gianyar – Kintamani. Waktu tempuh kurlang lebih 1,5 jam. Yah cukuplah buat melepas kerinduan. Haha.

Penghujung Gianyar, mendekati Jln. Raya Kintanamani hujan tipis menyambut, begitu juga kabut sudah menyelimuti jalan. Wohoo, yang sangat saya nantikan akhirnya datang, akan tetapi hujan semakin lebat dan saya putuskan mengenakan jas hujan.

Pandangan sedikit berkurang dan jalan mulai menanjak. Udara dingin pun menembus sela-sela helm dan kerah jaket. Dingin sih tapi sangat menyenangkan, karena saya menantikannya.

Tak lama akhirnya saya tiba di Kintamani, jam 6.30 pagi, kabut tebal dan udara dingin khas dataran tinggi.

Parkir motor dan duduk menghadap kabut tebal yang menutupi pemandangan Gunung dan Danau Batur. 

Waktu pula yang mengharuskan saya pulang. Waktunya BAB maksudnya.haha. Syukurlah tidak jauh dari tempat saya ada pertamina, jadi bisa leluasa melepas “sesuatu” disana. Hehe.

Rute balik ke rumah masih jalur yang sama, saya tidak memilih jalur kota agar dapat menikmati suasana pinggiran.

Langit mulai terang, hanya sedikit gerimis membuat saya bisa memacu si beat dengan optimal. Hujan sedikit lebat ketika memasuki Gianyar, hingga saya harus menepi di warung untuk sarapan dan kembali memakai jas hujan.

Kurang lebih jam 8 pagi saya sudah tiba kembali di rumah, disambut bocah-bocah. 

Menyenangkan bisa melepas rindu dengan aspal dan kabut pagi ini. Selamat berakhir pekan buat semua dan sampai jumpa di post berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *