Menuju penghujung di tahun Covid

Terasa sekali tahun ini begitu rumit dan berata untuk dilalui. Bagaimana tidak, tahun ini dihiasi dengan pembatasan, fiuh. Pembatasan untuk bisa senantiasa sehat dan terhindar dari namana Covid-19, dan juga pada akhirnya terjadinya keterbatasan untuk menyentuh ini Blog..haha, alasan. 

Huff, kalo saya amati setahun ini pas nya di 2020, tidak sepeuhnya hari berlalu begitu saja tanpa momen. Buanyak sebearnya momen-momen yg berlalu, karena keterbatasan dan pembatasan dalam segala hal termasuk Sosmed, seakan-akan tahun ini lempeng tanpa spesial yang terjadi. Nah, agar jejak digital memberikan faedah, hahaha.. yuk saya rangkumkan apa saja momen-momen yang terjadi hingga di Desember 2020.

Menyambut akhir pekan dengan bakar bensin.



Tiada momen paling berkesan selama setahun ini yang membuat hari-hari semakin dekat dengan orang-orang yang kita sayangi, yaitu keluarga. Sejak, membatasi diri  untuk piknik akan tetapi semakin sering untuk trip tipis-tipis mengelilingi sekitaran Kerobokan dan Denpasar. Ritual yang ternyata memaksa kita sekeluarga untuk 1 – 2 jam ada di dalam mobil dan menjadikan setiap minggu sebagai momen yang sangat berharga terutama komunikasi bathin. Tapi iyaloh, dulu sebelum wabah ini palig hanya pada kesempatan tertentu dan hari-hari libur barulah kita bisa berkumpul dan bener-benar perasaan dan pikiran ada ditempat yang sama. Nah sekarang saban hari, saban minggu. Ya ampun, sesuatu banget pokonya. Dan pastinya Siyon lah yang menjadikan itu semua. I love you more Siyon.

Solo riding hingga riding mengitari Bali.

Mengisi hari dengan keterbatasan gerak sosial membuat sedikit bosan, apalagi sisi negatif dari bekerja dari rumah adalah membuat saya hanya di rumah. Dengan sedikit dan bahkan sepinya pariwisata di Bali sejak pandemi membuat roda motor malah bisa berputar lebih leluasa dikarenakan jalanan tidak seramai dan semumpek dulu. Yah begitulah, bila di amati dengan seksama bagaimana alam menerima response dari dampak Covid ini sudah pasti berdampak sangat positif. Sedikit kendaraaan lalu lalang, polusi pun jauh berkurang. Serasa langit makin membiru setiap harinya di Bali.

Komunitas dan perkopian duniawi.

Walaupun pembatasa diri dari kegiatan sosial, eh malah di tahun ini saya dikenalkan oleh pribadi-pribadi muda dan semangat di komunitas Honda Beat Bali. Menemukan teman se-hobby, sama-sama suka berurusan dengan aspal dan kopi, sesuatu banget di tahun Covid ini. Puncaknya di penghujung tahun HBC Bali bisa mengadakan HUT dan Deklarasi bersama HBSC Bali, sungguh capaian yang luar biasa.

Serba digital dan dari rumah.

Bekerja dari rumah memberikan ruang yang lebih luas dengan keluarga. Lebih banyak waktu untuk mendengar anak-anak bertengkar dan melihat berantakannya kamar. Haha, itu semua sangat berarti bagi saya secara kejiwaan. Mungkin bagi kebanyakan masyarakat Bali terdampak oleh mati surinya pariwisata, namun sebenarnya itu semua memberikan dampak yang sangat instant bagi cara berfikir tentang perekonomian Bali kedepan. Yah, mau ga mau masyarakat Bali yang tadinya bergantung pada pariwisata mau tidak mau dipaksa untuk kreatif dan menemukan penghidupan lain selain dari pariwisata.

Banyak yang mengeluh, namun tidak banyak juga yang kemudian bangkit untuk tetap menggerakkan roda kehidupan dari usaha kreatif lainnya. Selalu tetap ada syukur di balik kesulitan.

 

Menambah kilometer Si Siyon

Setelah 2017 silam menembus Bali – Jogja di event Sirionesia, akhirnya kembali di tahun ini Siyon mengukir aspal menuju Semarang dan Solo. Menghadiri acara Jamnas SIC di awal tahun seolah-olah tahun ini akan sangat cerah untuk urusan bekomunitas, eh ternyata sedikit meleset. Hihi. Kegiatan di club SIC Dewata masih tetap jalan hanya saja dengan pembatasan, tidak ada publikasi yg intens seperti sebelum-sebelumnya.

Ditahun Covid ini SIC Dewata genap berumur 6 tahun, dan sangat saya syukuri masih bisa menjadi bagian dari keluarga SIC Dewata.

Kado terspecial di tahun Covid

Tiada menyangka kami diberikan hadiah yang luar biasa di tahun ini, menanti buah hati ketiga saya dan nyonya Nia. Hehe, sudah terbayangkan pertempuran anak-anak ada 3. Sungguh luar biasa.

Sebenarnya banyak hal yang terjadi di tahun Covid ini, bagi saya pribadi dan keluarga bahwa tahun ini adalah tahun terbaik dari sebelum-sebelumnya, tidak serumit dan se-complicated yang saya kira di awal. Banyak hal yang terjadi, ruang gerak semakin pendek di sosial namun ruang untuk keluarga semakin dekat.

Tetap bersyukur dan tetap menulis, Jatiluwih, Tabanan. 20210101

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *