STOP !!! Belanja dengan kantong “kresek” plastik

Setelah berdiri menunggu di depan kasir salah satu toko modern di seputaran Denpasar, tibalah belanjaan saya dihitung dan siap untuk dibayar. Agak kaget saya mendengar bahwa tidak disediakannya ‘kresek’ untuk saya bisa membawa pulang belanjaan.

Benar, tidak ada satupun kresek plastik yang disediakan dan….

Mengawali 2019 di Bali, tandem duo peraturan pemerintah yakni Peraturan Walikota Denpasar nomor 36 tahun 2018 Tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dan Peraturan Gubernur (Pergub) No. 97 Tahun 2018 Tentang Pembatasan Timbulan Plastik Sekali Pakai, menjadi salah satu solusi dari permasalah plastik yang selama ini menjadi bagian dari sekian banyak masalah lingkungan di Bali.

Kedua penerapan peraturan tersebut kemudian menuai kritik positif dan tidak sedikit yang menanggapinya pesimis dan cenderung sinis dimedia sosial. Diantara sekian komentar-komentar yang muncul, ternyata banyak diantaranya yang belum sepenuhnya memahami esensi dari aturan tersebut, serta masih mempertanyakan bagaiman solusinya tanpa kehadiran plastik atau kantong “kresek” yang sering digunakan dalam keseharian.

Nah disinilah perlu kita saling mengedukasi dan berbagi solusi, bagaimana mengatasi kemungkinan munculnya masalah baru dari ketergantungan kita terhadap penggunaan plastik. Dan perlu diketahui bahwa penerapan peraturan yang seperti ini di Bali sudah didahulai kota lainnya di Indonesia, jadi mustinya banyak solusi yang sudah ditemukan.

Berikut adalah alternatif kantong belanja pengganti kontong “kresek” plastik yang diantaranya tas belanja berbahan non-woven, ini banyak ditemui dipasaran yang bisa digunakan sebagai pengganti tas “kresek” belanjaan. Bahan kain non-woven ini cukup awet dan tahan lama untuk bisa digunakan dalam waktu yang lama.

Ataupun tas belanjaan berbahan plastik yang dapat digunakan berkali-kali dan tahan lama seperti tas belanja yang dari plastik dan dianyam sehingga seperti sebuah tas kerajinan. Nah ini pun sangat awet dipakai untuk keperluan menampung belanjaan. Plastik masih digunakan namun disesuaikan dengan fungsi sebenarnya bahwa plastik tahan lama dan digunakan berkali-kali dan bukan sekali pakai.

Box karton pun menjadi bisa mejadi pilihan untuk membawa belanjaa selepas dari trolli pusat perbelanjaan, sehingga mundah untuk diikat di motor ataupun di bagasi mobil.

Tentu saja masih banyak lagi solusi yang bisa ditemui asalkan kita berfikir positif dan mau mencari jawaban setiap permasalahan yang timbul dari ketergantungan penggunaan task “kresek” belanjaan.

Nah kemudian bagaimana dengan belanjaan pembungkus makanan atau bahan makanan terutama yang berkuah dan basah? Yah itu mudah saja, kita bisa membeli sekali untuk digunakan untuk waktu yang lama yaitu tupperware, tinggal menyesuaikan ukuran serta kebutuhannya.

Jadi kalo saya amati setiap kebijakan yang pastinya sangat baik bila setiap kebijakan disosialisasikan di masyarakat dengan seluas-luasnya, diawasi setiap kontra indikasi yang muncul dari kebijakan tersebut dan dievaluasi bila nanti toh ada masalah baru yang ditimbulkan. Saya berkeyakinan prihal 2 aturan baru tentang pengurangan penggunaan plastik akan sangat baik bagi lingkunangan kita sekarang dan masa yang akan datang.

…akhirnya saya pulang membawa belanjaan saya dengan dus karton dari minyak goreng. Aduh malunya saya..

Terima kasih dan selamat berkontribusi menjaga lingkungan kita.

One thought on “STOP !!! Belanja dengan kantong “kresek” plastik

  1. Saya masih sering lupa kalau belanja di minimarket sudah tidak disediakan plastik/kresek lagi, sepertinya belum terbiasa. Untung saja biasanya pakai motor matic dengan bagasi yg lumayan, jadi cukuplah untuk bawa barang belanjaan,

    Pernah juga belanja roti di sebuah gerai roti yang bermerk di daerah Lumintang, lucunya mereka tidak menyediakan/menjual tas lain sebagai pengganti tas kresek. Mau batal belanja rasanya malu, tapi mau ditenteng kok rasanya aneh, apalagi saat itu kami beli roti untuk oleh-oleh menjenguk saudara yang sakit. Jadilah roti itu urung kami beri ke saudara yang sakit, kami beri uang pakai amplop saja dan rotinya kami bawa pulang di bawah jok motor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *